Ratusan Delegasi WWF Disambut Tari Rejang Kesari Saat Kunjungan Terakhir di Jatiluwih 

Para delegasi World Water Forum ke-10 disambut Tari Rejang Kesari saat mengunjungi Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih pada Sabtu (25/5/2024).
Para delegasi World Water Forum ke-10 disambut Tari Rejang Kesari saat mengunjungi Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih pada Sabtu (25/5/2024).

PANTAUBALI.COM, TABANAN – Para delegasi World Water Forum (WWF) ke-10 yang mengunjungi Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih di Kecamatan Penebel, Tabanan, pada Sabtu (25/5/2024) disambut dengan Tari Rejang Kesari.

Delegasi yang berjumlah 105 orang dari berbagai negara tersebut terpukau dengan tarian yang dibawakan oleh 20 orang kaum ibu-ibu. Ditambah lagi dengan 20 orang pager ayu yang berbaris di kanan dan kiri jalan menuju areal terasering persawahan Subak Jatiluwih.

Kunjungan ini sekaligus menjadi kunjungan terakhir para delegasi di DTW Jatiluwih selama pergelaran WWF ke-10 di Bali.

Secara khusus juga kunjungan para delegasi diterima langsung oleh Sekretaris Daerah Tabanan I Gede Susila didampingi Manajer Operasional DTW Jatiluwih I Ketut Purna dan sejumlah pejabat terkait Pemkab Tabanan.

Manajer DTW Jatiluwih I Ketut Purna menjelaskan, dibandingkan kunjungan sebelumnya, jumlah rombongan yang mengunjungi Desa Jatiluwih di hari terakhir pelaksanaan WWF ke-10 di Bali ini merupakan jumlah terbanyak.

Baca Juga:  Dilaporkan Tersesat di Gunung Adeng, Dua Pendaki Berhasil Dievakuasi

Biasanya rombongan delegasi yang mewakili negara jumlahnya beberapa orang saja dan paling banyak hanya belasan orang.

“Kali ini sampai seratus orang lebih. Kami sambut mereka khusus dengan pager ayu dan rejang Kesari, sebuah tarian yang dikhususkan untuk Dewi Sri, Dewi kemakmuran dan kesuburan di sawah. Delegasi atau rombongan sebelumnya tanpa sambutan khusus seperti hari ini,” ujarnya.

Ia menyebut, rombongan peserta yang hadir berasal dari berbagai negara. Selain mewakili negara banyak juga peserta perorangan yang mewakili organisasi atau lembaga.

Peserta ada yang berasal dari Kenya, Perancis, Estonia, Jepang, Korea, Denmark, Algeria, Kazaktan, Jepang, Suriname, Turkey, Kanada, Afrika Selatan, Timor Leste dan India.

Baca Juga:  Rapat Paripurna DPRD Tabanan, Bupati Sanjaya Sampaikan 3 Ranperda

“Banyak juga yang berasal dari Indonesia sendiri,” ujarnya.

Purna menjelaskan, sama seperti kunjungan sebelumnya, para delegasi diajak untuk meninjau langsung terasering sawah. Sembari dirinya menjelaskan tentang Subak sebagai organisasi pengaturan air di sawah, kehidupan penduduk di Desa Jatiluwih yang sebagian besar berprofesi sebagai petani.

Selain itu, tentang beras merah atau padi Cendana yang dikembangkan dan ditanam petani di Subak Jatiluwih secara turun temurun.

Baca Juga:  Kronologi Dua Pendaki Tersesat di Gunung Adeng, Sempat Dilarang Mendaki Karena Kawasan Suci

“Mereka sangat tertarik dengan sawah berundak serta sistim subak yang ada di Desa Jatiluwih. Mereka juga menanyakan tentang beras merah yang diproduksi petani di Subak Jatiluwih,” imbuh Purna.

Diantara delegasi yang telah datang berkunjung ke DTW Jatiluwih Purna merasa dengan delegasi dari Thailand.

Meski pertaniannya sudah berkembang dan lebih maju dibanding Indonesia, namun delegasi Thailand tetap mau berkunjung ke Subak Jatiluwih mengagumi terasering sawah dan beras merah di Desa Jatiluwih.

“Begitu juga dengan delegasi dari Namibia yang sangat tertarik dengan sistim subak dan menyarankan seharusnya seluruh delegasi WWF datang ke Jatiluwih belajar,” imbuhnya. (ana)