Mencicipi Lawar Empas di Desa Pejaten Kediri, Kuliner Ekstrem dengan Banyak Khasiat

Lawar Empas - Kuliner ekstrem di Desa Pejaten, Kediri, Tabanan.
Lawar Empas - Kuliner ekstrem di Desa Pejaten, Kediri, Tabanan.

PANTAUBALI.COM, TABANAN – Lawar sudah dikenal sebagai kuliner khas Pulau Dewata. Umumnya lawar Bali menggunakan bahan dasar daging babi, ayam atau sapi.

Namun, tak jarang ada juga yang menggunakan daging hewan yang tergolong ekstrem seperti daging Labi-labi atau Bulus atau masyarakat di Bali menyebutnya dengan Empas.

Seperti contohnya di salah satu warung makan milik Wayan Sudarta (48) yang berlokasi di Banjar Dalem Baleran, Desa Pejaten, Kecamatan Kediri, Tabanan.

Saat ditemui di warungnya pada Minggu (28/1/2024) , Sudarta mengungkapkan warung makan miliknya sudah berdiri sejak tahun 2020 lalu. “Khusus untuk menu olahan dari Empas kami menyediakan lawar dan serapah. Ada juga yang dari daging kambing,” jelasnya.

Ia menceritakan, awal mula idenya berjualan Lawar Empas ini ketika ia diberi Empas oleh pemancing di sungai dekat tempat tinggalnya. Saat hendak menjual Empas tersebut, orang tuanya menyarankan agar menjualnya dalam bentuk olahan makanan.

Baca Juga:  Pembukaan PKB XLVI Kabupaten Tabanan Berlangsung Meriah

“Nah semenjak saat itulah saya akhirnya menjual Empas yang sudah diolah menjadi lawar dan serapah di sekitar rumah. Dan ternyata masyarakat di sekitar sini menyukai masakan saya. Bahkan sering kewalahan memenuhi pesanan,” ucapnya.

Dengan cita rasa yang pekat dengan bumbu khas Bali serta tekstur daging yang kenyal membuat para pelanggannya ketagihan sehingga tidak heran jika pelanggan di warungnya kebanyakan berasal dari luar Tabanan.

Untuk memenuhi kebutuhan produksi lawarnya sendiri, Sudarta mengaku mencari Empas hampir ke seluruh Kabupaten di Bali, seperti Karangasem, Jembrana, Bangli. Bahkan sampai mendatangkan dari Pulau Jawa.

“Biasanya saya mencari Empas ukuran besar dengan berat rata-rata diatas 15 kilogram. Karena semakin besar ukurannya maka cita rasa dagingnya semakin enak dan kalau yang kecil-kecil daging dan lemaknya cuma sedikit,” ungkapnya.

Baca Juga:  Relawan Semut Meriahkan Peringatan Bulan Bung Karno dengan Jalan Santai di Kecamatan Kerambitan

Selain karena diminati oleh masyarakat yang suka mengkonsumsi dagingnya, ada juga yang membeli olahan daging Empas untuk keperluan pengobatan. Seperti mengobati asam lambung, menormalkan kadar kolesterol hingga untuk membangkitkan stamina.

Selain Lawar Empas, Sudarta juga menjual minyak Empas. Minyak ini didapat dari lemak daging Empas yang dijemur dibawah terik matahari selama 1,5 tahun.

“Khasiat juga hampir sama dengan dagingnya seperti dapat mengobati asam lambung. Kemudian bisa juga untuk gatal, menghilangkan jerawat hingga menyembuhkan luka bakar,” ucapnya.

Baca Juga:  Atasi Stres Warga Binaan, Lapas Tabanan Berikan Layananan 'Teh Rina'

Sementara itu, Pemilik Warung Di Pangkung ini, menyebutkan harga olahan daging Empas per porsinya dijual dengan harga Rp30 ribu. Dengan harga itu pelanggan sudah bisa menikmati satu porsi olahan daging empas yang terdiri lawar, serapah, nasi putih dan juga kuah.

Sedangkan untuk minyak empas dijual mulai dari Rp4 ribu per mililiter. Ia bersama keluarga mulai berjualan dari pukul 09.00 WITA hingga habis.

“Astungkara selalu ramai. Dalam sehari rata-rata bisa menghabiskan 20 Kilogram daging empas. Untuk lemaknya, tergantung pada besar dan kecilnya Empas yang kami dapat,” imbuhnya. (ana)