Bupati Sanjaya Apresiasi Sradha Bhakti Krama Jebaud Belayu Dalam Laksanakan Yadnya

PANTAUBALI.COM, TABANAN – Sebagai umat Hindu, sudah merupakan keharusan kita untuk menjalankan Tri Rna sebagai suatu kewajiban dan bentuk rasa syukur yang kita kembalikan kepada Tuhan, para Dewa dan Leluhur kita, yakni dengan pelaksanaan Karya Panca Yadnya sebagai Shrada Bhakti.

Hal tersebut disampaikan langsung oleh Bupati Tabanan, Dr. I Komang Gede Sanjaya.,S.E.,M.M, saat pihaknya hadir, Ngupasaksi dalam Karya Ngaben lan Nyekah Bersama Banjar Adat Jebaud, Desa Adat Belayu, Desa Beringkit, Kecamatan Marga, Kamis (7/12/2023).

Pagi itu, Bupati Sanjaya didampingi oleh Para Penglingsir Puri Marga, salah satu anggota DPRD Kabupaten Tabanan, Sekda beserta para OPD terkait dan Kabag di lingkungan Pemkab Tabanan, Camat dan unsur Forkopimcam Marga. Dalam kehadirannya, pihaknya mengakui kekagumannya terhadap soliditas warga dalam menggelar karya. Hal tersebut sebagai komitmen Pemerintah atas timbal balik yang diberikan warga Desa Adat Belayu dalam menjaga kekompakan dan saling bersinergi dengan pemerintah.

Baca Juga:  Masuk Tahap Perencanaan, Lapas Perempuan akan Dibangun di Desa Antap Tabanan 

Upacara Yadnya ini dikatakan sangat memberikan dampak positif dalam pembangunan Tabanan secara keseluruhan. Dalam kegiatan yang digelar tersebut, sebanyak 65 Sawa Ngaben disertakan dengan biaya yang dibebankan masing-masing sawa sebesar Rp6,8 juta. Diikuti juga Ngelangkir sebanyak 18, dengan biaya Rp1 juta per sawa, 1 diri Ngelungah dengan biaya Rp1 juta dan juga dikuti oleh 57 Orang Metatah dengan biaya Rp500 ribu per-orang dan 30 peserta Metelu Bulanan dengan biaya Rp300 ribu per-orang.

“Saya di Pemerintah Kabupaten Tabanan memberikan apresiasi dan penghargaan kepada tokoh-tokoh saya di sini, manggala karya yang sudah menjalankan sebuah tradisi yang memang sudah diturunkan oleh para leluhur dari jaman dahulu, tentang ritual-ritual yang kita miliki. Pasti sebagai umat Hindu, tidak terlepas dari adanya ritual Panca Yadnya ini. Tidak pernah kita lepas, dari lahir sampai mati kita akan dihadapkan pada ritual, baik Dewa Yadnya, Pitra Yadnya, Rsi Yadnya, Manusa Yadnya lan Buta Yadnya, tidak pernah lepas dan wajib kita lakukan,” ujar Sanjaya saat itu.

Baca Juga:  Tingkatkan Kepuasan Wisatawan, Area DTW Tanah Lot Dilengkapi Tur Audio

Karena umat Hindu sangat meyakini di dalam sastra, kitab suci dan lainnya yang terhubung, bahwa sebagai Umat Hindu saat dilahirkan membawa hutang yang disebut dengan Tri Rna. Sehingga, hutang yang dimaksudkan itu berupa kewajiban yang harus dikembalikan lagi. Kewajiban membayar bhakti kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa, Dewa-dewa dan leluhur. Maka perlu diadakan pengabenan ini, wujud bhakti kita kepada Ida Leluhur begitu juga metatah dan lainnya yang selaras dengan Visi dan Misi di Kabupaten Tabanan, Nangun Sat Kerthi Loka Bali menuju Tabanan Era Baru yang Aman, Unggul dan Madani (AUM).

Bagi Sanjaya, hal tersebut juga masih berkaitan dengan Tema HUT Kota Tabanan yang ke-530, Paduraksa Jayaning Singasana yang artinya bagaimana kita memadukan rasa saling asah asih asuh antara pemerintah dan masyarakat. Saling toleh (lihat) dan saling mengayomi. Itulah dikatakannya tujuan kita di Tabanan dengan sebutan Tabanan Era Baru untuk mencapai Tabanan yang Aman, Unggul dan Madani. Sebab itu, pihaknya hadir di tengah-tengah masyarakat untuk memberikan doa restu, terhadap karya yang telah dijalankan dengan penuh kekompakan dan rasa tulus dan ikhlas.

Baca Juga:  Bupati Sanjaya Tunjukan Kolaborasi dalam Musrenbangkab dan Tiga Tahun Kepemimpinan Jaya Wira

Di kesempatan yang sama, I Nyoman Sutapa selaku ketua Panitia yang juga mewakili masyarakat menyampaikan ucapan terima kasih kepada jajaran Pemerintah yang hadir Ngupasaksi, demi kelancaran Karya Agung yang dilaksanakan. “Terima kasih kepada Bapak Bupati sudah datang. Atas nama panitia dan masyarakat, saya ngaturang suksema ring manah, sudah hadir dalam Karya kami. Dumogi apa yang sudah diberikan Bapak Bupati bisa meringankan beban masyarakat sareng sami. Saya juga memohon maaf apabila masih banyak kekurangan dalam pelaksanaan karya,” ujar Nyoman Sutapa. (rls)