Memasuki Musim Hujan, BPBD Tabanan Siagakan 35 Tim Reaksi Cepat Bencana Alam

Petugas BPBD melakukan penanganan pohon tumbang di Tabanan.
Petugas BPBD melakukan penanganan pohon tumbang di Tabanan.

PANTAUBALI.COM, TABANAN – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tabanan menyiagakan sebanyak 35 Tim Reaksi Cepat (TRC) hingga sarana dan prasarana untuk menghadapi bencana alam saat musim hujan.

Berkaca dari bencana pada 2022 dan pada pertengahan tahun 2023 lalu, bencana alam berupa longsor, banjir, jembatan putus, pohon tumbang dan rusaknya irigasi, terjadi pada musim penghujan.

Kepala Pelaksana BPBD Tabanan Nyoman Srinadha Giri mengatakan, setiap tim akan berkolaborasi untuk penanganan bencana alam. Misalnya ketika bencana itu ringan maka akan dapat bekerja dengan masyarakat. Ketika bencana besar dan masif maka dengan instansi lainnya.

Baca Juga:  Delegasi WWF Kagumi Sistem Irigasi Subak dan Varietas Beras Merah Cendana Jatiluwih

“Kekuatan tim kita delapan sampai sepuluh di setiap tim. Kita ada 35 tim TRC,” ujarnya, Senin (20/11/2023).

Giri menjelaskan, saat ini memang belum ada tim gabungan, yang biasanya diisi oleh pemerintah Basarnas, Polri dan TNI. Tim gabungan ini akan ada ketika ada bencana masif atau ada penetapan status kebencanaan oleh Bupati.

Baca Juga:  Petugas Geledah Blok Hunian Napi Lapas Tabanan dan Lakukan Tes Urin, Ini Hasilnya

“Ketika bencana itu besar maka butuh orang banyak. Kalau untuk longsor atau bencana kecil-kecil atau ringan? masih bisa dilakukan dengan kita bekerja sama dengan masyarakat,” jelasnya.

Sementara itu, Giri mengaku, untuk penataan 26 sungai saat ini masih berjalan. Sembari pihaknya terus merawat sarana prasarana milik BPBD Tabanan. Misalnya mesin sensor yang saat ini siaga ada tujuh buah, yang bisa difungsikan untuk pemotongan pohon dan bencana lainnya.

Baca Juga:  Subak Desa Bengkel Tabanan Diresmikan Sebagai Ecohydrology Demonstration Site UNESCO 

Selanjutnya, mesin air untuk ketika ada longsor ada dua. Yang difungsikan ketika bencana alam longsor dikerjakan manual, maka akan menggunakan mesin pendorong air itu untuk menarik tanah.

“Kalau kewaspadaan tentunya kita mewaspadai terutama di jalur Denpasar-Singaraja. Karena di sepanjang jalur itu masih memiliki banyak pohon perindang ukuran besar dengan usia tua,” imbuhnya. (ana)