Stress?Ini Solusinya

14

DENPASAR – Pantaubali.com – Psikis atau kondisi kejiwaaan manusia sewajarnya bergerak dinamis sesuai kondisi internal dan eksternal yang dihadapinya.Pandemi adalah sebuah kejadian eksternal luar biasa yang berdampak pada berbagai sendi kehidupan termasuk ekonomi.

Hal ini pasti akan berpengaruh pada manusia sebagai individu dan masyarakat. Terganggu kondisi mental akibat kondisi ekonomi atau tergantung pada seberapa berat perubahan kondisi ini dipersepsi oleh masyarakat atau individu tersebut, itu disampaikan, Dosen Psikologi FK Unud, Dr. Ni Made Swasti Wulanyani, M.Erg. Psikolog,Sabtu,(30/1) di Denpasar.

“Jadi, jika individu atau masyarakat memiliki persepsi selalu buruk terhadap perubahan ekonomi yang terjadi maka akan selalu timbul perasaan negative,” sebutnya.

Persepsi atau pikiran dan perasaan negative ini akan memicu timbulnya stress yang wujudnya antara lain berupa kecemasan, ketakutan, atau kesedihan yang berlebihan.Jika kondisi ini berlangsung lama maka, bisa menjadi depresi.

“Kondisi stress atau depresi tentu akan mengganggu keseharian manusia dalam berkegiatan. Misalnya saja seorang karyawan menjadi tidak tercapai target kinerjanya, atau mahasiswa menjadi tidak bisa konsentrasi menghadapi kuliah,” jelasnya.

Dari alur sederhana tersebut maka dapat disimpulkan bahwa, cara menghindarkan diri dari stress atau depresi adalah dengan mengurangi persepsi buruk dan perasaan negative terhadap segala hal dialami. Hal ini tidak mudah namun tetap dapat dilatih.

“Mulailah dengan melihat hal yang dapat disyukuri pada setiap kejadian buruk, sekecil apa pun itu. Selanjutnya, resiliensi (kemampuan beradaptasi dan tetap teguh dalam situasi sulit) juga harus ditingkatkan,” ucapnya.

Sembari Dirinya menambahkan, semakin terampil individu memunculkan persepsi dan perasaan positif, serta resiliensi yang tinggi maka kondisi stress atau depresi dapat dihindari.

Baca Juga:  BPR Sewu Bali Beraset Rp17 milyar,Dilikuidasi