Sengap : Menarikan Rangda Jangan Asal Saluk

19

Denpasar,Sempat terjadinya musibah penari Rangda meninggal akibat tertusuk keris saat pentas belum lama ini di Denpasar.Sebelumnya hal serupa juga sempat terjadi dibeberapa daerah di Bali.

Menangapi hal tersebut menurut salah satu seniman asal Tabanan Mangku Nyoman Ardika alias Sengap yang juga seorang penari rangda belum lama ini di Denpasar menyampaikan, jangan sampai hal serupa kembali terjadi dan menimpa penari Rangda lainnya.Maka, dalam hal ini sangat penting memperhatikan tatacara jangan sampai asal saluk (memakai) saja.

“Fenomena terjadi saat ini, asal saluk.Jika dilihat dalam petapakan Pragina setidaknya,seorang Pragina harus memiliki tiga Taksu,bagaimana sesalukanya memang benar, pas,layak,bagaimana memiliki aura dan ketiga bagaimana memiliki wawasan,” bebernya.

Proses menarikan Rangda jika digunakan ritual berkaitan dengan upacara sudah masuk dalam kategori sakral.Jadi, Penarinya harus mengikuti proses pawintenan atau proses mesakapan.

“Jadi bukan semata-mata untuk menarikan saja,akan tetapi prosesnya cendrung ke proses ritual.Karena Rangda ini masuk dalam sebuah kontek sakral,dilihat dari bentuknya telah berbentuk aksara,bagaimana konsep Rangda dengan nyapuh jagat rambutnya dan bagaimana lidahnya juga yang menjulur,” bebernya.

Jadi bisa dikatakan semua ada aturanya, jika konteknya Rangda merupakan barang seni,maka ditunjukan adalah konteks seninya saja.Jadi jangan disangkut pautkan dengan ritual.

“Kita harus memahami ini, orang ini menarikan rangda untuk kebutuhan apa.Memang jika dilihat saat ini, banyak bisa menarikan dan bahkan memiliki rangda di rumahnya juga,” tutup Sengap.

Baca Juga:  Gubernur dan Wakil Gubernur Bali, Mengapresiasi Penyelenggaraan Riset Kebencanaan "Ideathon" Bali Kembali