Ribuan Layangan Hiasi Pantai Nyanyi

25

Pantaubali.com – Tabanan -Suasana Pantai Nyanyi, Beraban, kediri tabanan dipenuhi warnai warni berbgai bentuk layana tradisional maupun kreasi. Ribuan layanan tersebut berebut menjadi yang terbaik dlam kegiatan Pelangi Tabanan Kite Festival II yang digelar dua hari, Sabtu dan Minggu (8-9/9) di areal Pantai Nyanyi, Kediri.

Para peserta yang datang dari seluruh Bali berupaya menampilkan layangan mereka untuk menjadi terbaik. Berbagai ukurna dna warga layangan jensi Bebean diterbangkan berbgai sekehe rare angon atau pelayang yang ada di Tabanan dan seluruh bali. Begitupun jenis janggan yang menjadi trade mark layangan di Bali. Selain juga diterbangkan layana jenis pecukana ataua di tabana lebih dikenal dengan sebutan layanan bucu dua. Bahkan tabanan memiliki gegulak (ciri khusus) yang berbreda dengan layangan pecukan di Bali pada umum. Yang tidak kalah menarik layangan kreasi dengan berbgaia bentuk seperti barong bangkung, palu, rangda, helicopter pis bolong dan bentuk lainnya yang menarik untuk dilihat .

Dengan areal yang cukup luas dan panjang, membuat para pelayang yang kebanyakan dari kalangan anak muda ini dengan leluasa untuk menarik tali dan menaikkan layangan. Meskipun dalam sekali seri dinaikkan puluhan layangan. Jenis layangan beban, pecukan dan kreasi dengan mudah naik karena angin di tepi pantai cukup kencang. Hanya layangan janggan sedikit kesulitan karena panjanganya ekor. Namun demikian, hampir seluruh layangan bisa naik dan terbang meliuk seperti ular naga warna warni terbang di angkasa .

 

Ketua Panitia I Made Edi Wirawan mengatakan, festival layang-layang kedua tahun 2018 ini diikuti 1350 sekehe layangan yang datang dari seluruh Bali. “Awalnya peserta sangat minim, namun seminggu terakhir waktu pendaftaran peserta membludak, ini sungguh membahagiakan,” katanya di sela-sela acara, Minggu (9/9).

Baca Juga:  Selalu Diberi Angin Surga, 7 Bulan Nakes Belum Terima Insentif di Tabanan

Dikatakan, dalam lomba ini, pihaknya menyiapkan 33 juri independen berkompeten yang menilai peserta dari bentuk layangan, ukuran, kekompakan tim serta keindahan gerakan layangan di udara. “Bukan sekedar bisa naik, tapi bagaimana gerakannya termasuk kekompakan pelayang saat menarik tali layangan termasuk saat menurunkan layangan sesuai waktu yang telah ditetapkan,” sebutnya.

Hal senada disampaikan Putu Eka Putra Nurcahyadi. Menurut dia, membludaknya peserta lomba menunjukan gairah para pelayang di Bali khususnya di Tabanan sangat tinggi. Menurut dia melayangan bukan sekedar hobi tetapi sudah menjadi tradisi dan hiburan bagi masyarakat di Tabanan yang agraris.

Terkiat perubahan lokasi baik Edi Wirawan maupun Eka Putra Nurcahyadi menyebutkan kalau lokasi sebelumnya di barat DTW Tanah Lot saat ini musim tanama dan seluruh sawah sedang ditanami padi. Sementara lokasi sekarang memang areal terbuka dan lokasi lebih bagus serta lebih luas, selain tidak menyebabkan kemacetan menuju obyek wisata Tanah Lot.