Ini Tagapan Bulog Bali, Terkait Info Harga GKP di Rp 3.900 perkg

32

BADUNG – Pantaubali.com- Terkait sempat adanya info harga Gabah Kering Panen (GKP) sebesar Rp 3.900 perkg,kemungkinan hal tersebut disebabkan kondisi gabah hasil panen belum sesuai dengan syarat dan ketentuan dalam Permendag No 24 tersebut.Bahwa menurut Perum Bulog Bali harga (GKP) berkisar Rp 4.300 sampai Rp 4.400 perkg, sedangkan harga sesuai dengan Permendag No 24 tahun 2020, GKP sebesar Rp 4.200 perkg, dengan syarat kotoran hampa 10 persen dan kadar air 25 persen, hal tersebut disampaikan, Pimpinan Perum Bulog Bali Suhardi, beberapa hari (Selasa,(23/3) saat ditemui langsung di Komplek Pergudangan Bulog di Sempidi,Badung.

“Informasi dari mitra-mitra Penggilingan bahwa harga GKP masih berkisar Rp 4.300 sampai Rp 4.400 per kg saat ini. Terkait sempat disebutkan ada harga GKP Rp 3.900 perkg, saya kira sifatnya situasional dan lokal, dengan memperhatikan situasi dan kondisi di daerah tersebut,” jelasnya.

Mengingat saat ini terjadi curah hujan tinggi dan bisa dikatakan hampir setiap hari terjadi hujan dengan dibarengi adanya angin kencang.Tentu kemungkinan mengakibatkan robohnya padi sebelum dipanen, tentu kondisi tersebut akan berdapak pada kondisi gabah yang belum sesuai syarat dari Permendag tersebut

“Semoga dengan adanya Permendag No 24 tahun 2020 tersebut para petani dan mitra kerja Perum Bulog Kanwil Bali telah memahami dan mengetahui persyaratan- persyaratan dalam Permendag baik untuk Gabah Kering Panen, Gabah Kering Giling, maupun Beras kwalitas Medium dari segi harga, kwalitas maupun ketentuan.Jadi sampai saat ini di Bali khususnya harga gabah masih bagus,” paparnya.

Dalam hal ini Perum Bulog Bali tetap berusaha mengoptimalkan penyerapan lokal yang sebanyak- banyaknya guna memenuhi kebutuhan CBP dengan tetap mengacu pada Permendag No 24 tahun 2020.

Baca Juga:  Ini Update Penanggulangan Covid-19 Per Kemarin di Bali

“Sesuai Permendag tersebut untuk harga beras kwalitas Medium dengan broken 20%, kadar air 14%, menir 2% derajat sosoh 95% dengan harga Rp 8.300 perkg digudang Bulog,” katanya.

Dengan adanya penyerapan beras CBP yang optimal tersebut tentu harus diimbangi dengan outlet penyaluran yang pasti, untuk menjaga keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran, beras CBP, sehingga beras yang dimiliki tersebut akan mempunyai perputaran yang cepat, yang akan berdampak pada ketersediaan keterjangkauan dan stabilisasi harga yang efektif dan effisien.Sembari

Sembari Suhardi menambahkan,begitu juga sebaliknya bila terjadi tidak balance maka perputaran dan penyimpanan beras akan lama, akibatnya akan timbul biaya perawatan yang tinggi serta kemungkinan akan terjadi adanya penurunan mutu hal tersebut akan berdampak pada keuangan perusahaan.