Gubernur Sampaikan Konsep Ekonomi Kerthi Bali di Side Event G20 Indonesia

7

BADUNG – Pantaubali.com – Gubernur Bali, Wayan Koster mengucapkan apresiasi dan terimakasih, karena Bali dipilih sebagai tempat pelaksanaan pertemuan Side Event G20 Indonesia, 3rd Development Working Group Meeting dengan tema“’Transforming the Economy Towards a Resilience and Sustainable Growth” diselenggarakan Kementrian PPN/Bappenas RI di BNDCC, Nusa Dua, Badung, Senin (8/8).

Pertemuan sangat penting dan bagian acara pendahuluan dari rangkaian pertemuan Presidensi G20, dan berkontribusi langsung pemulihan pariwisata dan perekonomian Bali, dihadiri Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas RI Suharso Monoarfa, Sekretaris Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional RI Taufik Hanafi, hingga narasumber dari mantan Menteri Perencanaan Venezuele (1992-1993), Racardo Hausmann, mantan Menteri Perencanaan Pembangunan RI (2009-2014), Armida Alisjahbana, mantan Menteri Perencanaan Pembangunan RI (1998-1999), Wakil Presiden RI (2009-2014), Bapak Budiono dan mantan Menteri Perencanaan Pembangunan RI (2016-2019) serta mantan Menteri Riset dan Inovasi RI (2019-2021), Bambang Brodjonegoro.

Gubernur Bali menyampaikan upaya melakukan transformasi ekonomi Bali akibat pandemi Covid-19 telah berlangsung lebih dari 2 tahun sangat berdampak seluruh sendi kehidupan, terutama sektor perekonomian. Dari 34 provinsi di Indonesia, Provinsi Bali mengalami kontraksi ekonomi terdalam dan terlama akibat pandemi. Hal ini lebih dari 54% perekonomian Bali bergantung pada sektor pariwisata.

Gubernur Koster mengungkapkan, sektor pariwisata sangat rentan terhadap perubahan faktor eksternal, yaitu gangguan keamanan, bencana alam, dan bencana non alam seperti munculnya pandemi Covid-19 melanda hampir semua negara di dunia.

”Kejadian menimpa sektor pariwisata berdampak langsung mengakibatkan perekonomian Bali terpuruk, mengalami kontraksi pertumbuhan sangat dalam, sebesar -9,31%,” jelas orang nomor satu di Pemprov Bali ini.

Bertitik tolak dari pengalaman tersebut, kata Gubernur Koster, sudah saatnya Bali menata ulang perekonomian untuk menyeimbangkan struktur dan fundamental perekonomian Bali. Kembali kepada keorisinilan dan keunggulan sumber daya lokal meliputi alam, manusia, dan kebudayaan Bali terutama di sektor pertanian, kelautan dan perikanan, dan industri kerajinan rakyat berbasis budaya branding Bali.

Baca Juga:  IJTI Bali Gelar Pelatihan Video Jurnalis Menyongsong Digitalisasi dan Keterbukaan Informasi Publik

Gubernur Koster menerangkan, pariwisata diposisikan sebagai sumber tambahan (bonus/benefit) dalam perekonomian Bali harus dikelola agar berpihak terhadap sumber daya lokal Bali. Selain itu, pengembangan perekonomian Bali mengakomodasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) termasuk teknologi digital yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan ekonomi kreatif dan digital.

”Perkembangan Iptek dapat dimanfaatkan meningkatkan perekonomian agar berkualitas, bernilai tambah, berdaya saing, dan berkelanjutan,’’ sebuy Gubernur Koster.

Ketidakseimbangan struktur dan fundamental perekonomian Bali, kata Gubernur Koster, mengakibatkan perekonomian Bali sangat bergantung dan rentan terhadap perubahan faktor eksternal. Di pihak lain, pertumbuhan kapasitas ekonomi Bali kurang berkembang secara optimal. Guna memperkuat dan menyeimbangkan struktur dan fundamental perekonomian Bali diperlukan suatu konsep ekonomi komprehensif, yaitu Ekonomi Kerthi Bali.

Gubernur Koster menjelskan, ekonomi Kerthi Bali merupakan implementasi visi Pembangunan Bali ”Nangun Sat Kerthi Loka Bali” melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana menuju Bali Era Baru. Visi tersebut untuk mewujudkan keseimbangan/keharmonisan alam Bali, manusia Bali, dan kebudayaan Bali sesuai nilai-nilai kearifan lokal Sad Kerthi, yaitu enam sumber utama kesejahteraan/kebahagiaan kehidupan manusia. Keenam tersebut meliputi, Atma Kerthi (penyucian dan pemuliaan Atman/jiwa), Segara Kerthi (penyucian dan pemuliaan pantai dan laut), Danu Kerthi (penyucian dan pemuliaan sumber air), Wana Kerthi (penyucian dan pemuliaan tumbuh-tumbuhan), Jana Kerthi (penyucian dan pemuliaan manusia) dan Jagat Kerthi (penyucian dan pemuliaan alam semesta).

Ekonomi Kerthi Bali adalah ekonomi mewujudkan Bali berdikari dalam bidang ekonomi, dibangun dan dikembangkan berlandaskan nilai-nilai filosofi Sad Kerthi dengan menerapkan 11 prinsip, yaitu ekonomi yang dikembangkan dari sikap mensyukuri/memuliakan kekayaan, keunikan, dan keunggulan sumber daya lokal Alam Bali beserta Isinya sebagai anugerah dari Hyang Pencipta. Ekonomi dikembangkan sesuai potensi sumber daya lokal alam Bali beserta isinya, dikembangkan krama Bali secara inklusif, kreatif, dan inovatif, berbasis nilai-nilai adat, tradisi, seni, budaya, dan kearifan lokal Bali, menjaga ekosistem alam dan budaya secara berkelanjutan, meningkatkan kapasitas perekonomian lokal Bali, berkualitas, bernilai tambah, dan berdaya saing, mengakomodasi penerapan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta teknologi digital, memberi manfaat nyata guna meningkatkan kesejahteraan dan kebahagiaan Krama Bali secara niskala-sakala, dibangun dengan asas gotong-royong, meningkatkan ketangguhan menghadapi dinamika perkembangan zaman secara lokal, nasional, dan global; dan menumbuhkan spirit jengah dan cinta/bangga sebagai Krama Bali.

Baca Juga:  Terima Kunjungan Singapore Indonesia Youth Leaders Exchange Program, Wagub Bali Dorong Pemuda untuk Berinovasi

Ekonomi Kerthi Bali, kata Gubermur Koster, memiliki enam sektor unggulan, yakni sektor Pertanian dalam arti luas termasuk peternakan dan perkebunan dengan sistem pertanian organic, sektor kelautan dan perikanan, sektor industri manufaktur dan industri berbasis budaya branding Bali, Industri Kecil Menengah (IKM), Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dan Koperasi, ekonomi kreatif dan digital dan sektor pariwisata, yaitu pariwisata berbasis budaya, berorientasi kualitas, dan bermartabat.

Ekonomi Kerthi Bali merupakan konsep ekonomi yang harmonis terhadap alam, hijau/ramah lingkungan, menjaga kearifan lokal, berbasis sumber daya lokal, berkualitas, bernilai tambah, berdaya saing, tangguh, dan berkelanjutan. Selain itu, Ekonomi Kerthi Bali merupakan konsep dengan paradigma baru untuk mewujudkan tatanan kehidupan perekonomian sebagai penanda Bali Era Baru, diharapkan menjadi arus utama dalam perubahan tatanan ke dunia global.

Dengan pola pembangunan perekonomian melalui Ekonomi Kerthi Bali akan terjadi keterhubungan langsung antar sektor unggulan, menumbuhkan pusat-pusat perekonomian baru, meningkatkan kapasitas perekonomian Bali, menyeimbangkan struktur dan fundamental perekonomian Bali, sehingga secara nyata memberi manfaat bagi peningkatan kesejahteraan dan kebahagiaan krama Bali secara sakala-niskala.

”Penerapan konsep Ekonomi Kerthi Bali akan berdampak langsung maupun tidak langsung terhadap upaya penurunan emisi karbon,” jelas Gubernur Bali asal Desa Sembiran, Buleleng ini.

Konsep pembangunan Ekonomi Kerthi Bali digunakan sebagai acuan oleh Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/BAPPENAS dalam menyusun program Transformasi Ekonomi Bali melalui peta jalan Ekonomi Kerthi Bali menuju Bali Era Baru, hijau, tangguh, dan sejahtera. Pelaksanaan transformasi ini akan terwujud perekonomian Bali yang hijau, yaitu ramah lingkungan dan berkelanjutan. Tangguh yaitu memiliki daya tahan terhadap krisis dan guncangan eksternal, bernilai tambah tinggi, dan berdaya saing. Sejahtera, meningkatnya kesejahteraan masyarakat, baik sebagai pelaku usaha maupun penerima manfaat dari proses pembangunan tersebut, dengan kondisi yang adil dan merata.

Baca Juga:  Buka World Pickleball Championship, Wagub Cok Ace Ajak Atlet Nikmati Keindahan Alam Bali

Peta jalan transformasi Ekonomi Bali telah diluncurkan secara resmi oleh Presiden Republik Indonesia, Ir. Joko Widodo tanggal 3 Desember 2021.

”Peta jalan ini menjabarkan strategi dan rencana aksi pemulihan ekonomi jangka pendek dan strategi transformasi perekonomian Bali dalam jangka menengah-panjang. Disamping juga menata kembali perekonomian Bali dengan prinsip memanfaatkan berbagai sumber daya lokal Bali baik alam, manusia dan budayanya, secara optimal dan berkelanjutan,” tambah Gubernur Bali jebolan ITB ini.

Langkah pemulihan ekonomi jangka pendek, kata dia, dilakukan untuk mengembalikan kegiatan ekonomi, sehingga mampu menciptakan lapangan kerja dan mengembalikan kesejahteraan masyarakat Bali. Sementara itu, transformasi ekonomi Bali proses pembangunan ekonomi memiliki dampak jangka oanjang mencakup enam strategi besar dan dijalankan dengan berbagai program pembangunan, yaitu Bali pintar dan sehat, produktif, hijau, terintegrasi, Smart Island; dan Bali kondusif.

Gubernur Koster menyatakan, pihaknya mendapat dukungan penuh dari Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/BAPPENAS dalam implementasi Peta Jalan Ekonomi Kerthi Bali Menuju Bali Era Baru: hijau, tangguh dan sejahtera, dalam kerangka terwujudnya cita-cita Indonesia Maju tahun 2045.

”Saya menyampaikan terimakasih kepada Bapak Menteri serta seluruh jajaran atas segala komitmen dan dukungan kuat yang telah diberikan untuk kemajuan Bali,”tutupnya. (Rilis)