Awas Ada Polisi Gadungan Razia HP Siswa

13

Pantaubali.com-Tabanan-Penjagaan menuju SMPN 2 Tabanan pun diperketat pasca digegerkan dengan ulah seorang oknum polisi gadungan yang melakukan penipuan dan berhasil menggondol enam unit handphone milik siswa kelas VIII A, Kamis (9/8). Pelaku ini bermodus menggelar razia hp dengan mengaku sebagai polisi dengan tujuan mengantisipasi adanya teror.

Salah satu siswa kelas VIII A, Yohanes Kusuma (14) menceritakan ihwal peristiwa tersebut. Saat ia tiba di sekolah sekitar pukul 06.20 Wita, pelaku ini sudah berada di parkiran sekolah. Karena kondisi di sekolah masih sepi, ia pun memilih nunggu di halaman sekolah. Setelah semua siswa sudah datang ke kelas, pelaku ini kemudian masuk ke Kelas VIII A dengan mengaku sebagai polisi (intel).

Dengan mengaku sebagai polisi dan berpakaian layaknya intel seperti mengenakan jaket, celana jeans, dan helm, pelaku tersebut pun meminta absen siswa kepada salah satu siswa disana. Setidaknya ada belasan HP yang dikumpulkan, kemudian si pelaku ini pun memilih sebanyak enam unit yang mana hp tersebut merupakan yang terbaru dan tercanggih serta memiliki daya jual yang lumayan mahal seperti merk Oppo dan Samsung.

“Dia bilang dirinya polisi dan melakukan sidak HP katanya untuk mengantisipasi adanya teror. Hape yang diambil hape yang bagus bagus saja,” tutur Yohanes sembari mengingat peristiwa tersebut saat dijumpai di sekolahnya, Jumat (10/8).

Yohanes melanjutkan, setelah berhasil menggondol enam HP tersebut, kemudian sekitat pukul 06.45 Wita pelaku meminta salah satu siswa yakni dirinya untuk mengikutinya dan mengaku akan menuju Polres Tabanan untuk mengambil sebuah surat tugas. Namun sayangnya, Yohanes yang diboncengnya dari SMPN 2 Tabanan menuju Polres Tabanan diminta turun di Kantor SIM untuk menunggu. Namun sayangnya, pelaku yang mengaku akan mengambil surat tersebut justru pergi dari Polres Tabanan dan menuju ke arah timur.

Baca Juga:  Pol PP,Kadishub dan Dandim, Pantau Operasi Yustisi di Tabanan

“Saya diminta ikut sama dia ke kantor polisi. Kemudian diturunin di Kantor SIM trus dia bilang mau ambil surat dan keluar dari polrws kemudian ke arah timur. Saya sampai jam 8 disana (Polres) tapi dia tidak datang,” kenangnya.

Lantaran tak kunjung datang, kata dia, langsung menuju sekolah dengan cara jalan kaki dari Polres yang jaraknya kurang lebih sekitar 200 meter ini.

Disinggung mengenai ciri-ciri pelaku, Yohanes pun dengan tegas menyebutkannya yakni berperawakan gendut, kulitnya hitam dengan postur tubuh tinggi, mengenakan jaket berwarna hitam daleman kaos putih, dan mengendarai sepeda motor matik vario warna pink kombinasi hitam serta mengenakan helm KYT berwarna abu-abu.

“Yang jelas orangnya gendut, kulitnya hitam, tapi saya gak tau berapa nomor plat motornya,” tegas siswa asal Banjar Wanasari Tengah, Desa Wanasari, Tabanan ini.

Sementara itu, Kepala SMPN 2 Tabanan, I Gede Darmika pun membeberkan peristiwa tersebut. Dia mengakui bahwa saat itu (peristiwa) tidak sedang berada di sekolah dan menerima laporan bahwa ada seseorang yang berpura-pura atau menyamar menjadi seorang polisi kemudian menggelar razia dan menyita enam unit handphone siswa.

“Siswa kelas VIII A sebenarnya tidak melaporkan kejadian itu. Namun siswa menceritakan kejadian itu kepada pemilik kantin di sekolah yang kebutlan istrinya Guru BK disini. Setelah itu arulah dilaporkan ke guru BK dan mereka menyampaikan kepada saya,” jelasnya.

Dia mengatakan, saat itu pihak sekolah yang kebetulan Wakasek, Gusti Made Sujendra sedang piket di sekolah juga melihat pelaku, namun tidak menaruh curiga terhadap pelaku lantaran menganggap pelaku tersebut adalah salah satu orang siswa.

“Saat itu ada guru piket kami yang melihat tapi tidak curiga karena dikira orang tua siswa,” ungkapnya.

Baca Juga:  Kesekian Kalinya, Badai Dukungan Kembali Menerpa Paket Jaya-Wira di Tabanan

Darmika melanjutkan, pasca peristiwa tersebut diketahui langsung melapor ke SPKT Polres Tabanan. Dan saat ini pihak sekolah juga sedang diperiksa di kepolisian termasuk meminta sejumlah barang seperti kotak hape untuk mencocokan nomor IMEI handphone yang hilang sebagai bahan untuk penyelidikan di lapangan.

“Sekitar 15 menit dia melancarkan aksinya di kelas dan sudah dilaporkan ke polisi. Sekarang polisi sudah bekerja dan meminta barang-barang kepada korban seperti kotak hap yang akan digunakan untuk bahan penyelidikan tersangka,” jelasnya.

Dia juga mengakui, bahwa peristiwa ini baru pertama kali terjadi dan menjadi pelajaran bagi SMPN 2 Tabanan untik tidak sembarangan membiarkan orang masuk.

“Sekarang kami perketat pintu masuk ke sekolah agar tidak sembarangan ke sekolah. Seperti meminta seseorang yang masuk kesini untuk meninggalkan identitasnya di pos satpam,” ujarnya.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Tabanan, AKP Decky Hendra Wijaya mengakui sudah menerima laporan kasus tersebut. Dan hingga saat ini masih tahap penyelidikan dan sudah memeriksa sejumlah saksi termasuk pihak sekolah yang menjadi korban.

“Tim kami sudah bergerak dan sedang meminta keterangan beberapa pihak seperti siswa dan guru sekolah,” ujarnya.