Ajang Lomba Mesatua Bali Minim Peninat di PKB

10

DENPASAR – Pantaubali.com – Lomba Mesatua warnai Pesta Kesenian Bali ke-44, di hari ke empat penyelenggaraa diisi Wimbakara Bali digelar di Kalangan Angsoka, Taman Budaya Provinsi Bali. Namun, dari sembilan kabupaten/kota di Bali, peserta lomba hanya berjumlah lima orang, itupun perwakilan tiga kabupaten/kota di Pulau Dewata.

“Lomba mesatua ini hanya diikuti oleh wakil Kota Denpasar, Kabupaten Badung dan Gianyar. Menjadi pertanyaan besar mengapa kabupaten yang lain tidak mengirimkan pesertanya,” ujar salah satu juri Wimbakara Mesatua Bali, Ida Bagus Rai Putra, ditemui disela-sela kegiatan lomba di Denpasar, Rabu (15/6).

Sejumlah kabupaten yang tidak mengirimkan pesertanya itu juga tidak kalah dari sisi koleksi jumlah cerita rakyatnya.

“Buleleng, Klungkung, Tabanan, Jembrana, Bangli dan Karangasem memiliki banyak cerita rakyat. Barangkali persoalannya pada anggaran,” jelasnya.

Rai Putra mengharapkan dalam ajang PKB ke depan agar ada kemauan politik dari pemerintah kabupaten/kota untuk mengirimkan wakil-wakilnya untuk mengikuti lomba Mesatua Bali.

“Kita harus menghargai budaya mesatua Bali karena cerita-cerita rakyat Bali sangat kaya dengan tuntunan etika, nilai rohani dan hal-hal yang menjadi perilaku baik dari suatu daerah,” bebernya, bersama dua juri lainnya yaitu, I Nyoman Duana Sutika dan AA Gede Putra Sumadi itu.

Terlebih dalam ajang PKB kali ini untuk lomba Mesatua Bali juga sudah dikembalikan ke pakemnya dengan dibawakan oleh para orang tua atau peserta yang ikut berusia minimal 40 tahun.

“Kami sebenarnya gembira sekali dan bahagia dalam PKB ini dilakukan terobosan mesatua (bercerita) dikembalikan ke pakemnya dengan dibawakan oleh para orang tua. Bukan sebaliknya anak-anak yang bercerita kepada para orang tua”, ucapnya.

Ternyata persoalannya pada jumlah peserta yang minim. Dari lima peserta, dua orang merupakan duta Kota Denpasar, dua orang duta Kabupaten Badung dan satu peserta sebagai perwakilan Kabupaten Gianyar.

Baca Juga:  Gubernur Bali Apresiasi Kehadiran Relawan Kemanusiaan Dalam Penanganan Bencana

Terkait penampilan peserta lomba, ia menyoroti masih ada sejumlah kelemahan seperti pengucapan kata-kata yang kurang tepat antara kata benda dan kata kerja, dan tema PKB yang belum digarap sedemikian rupa dalam cerita.

“Kesannya yang tadi ditampilkan tema begitu saja disusupkan, seharusnya bercerita yang baik sehingga alur cerita menjadi bagus. Semestinya digarap sedemikian rupa karena cerita rakyat Bali itu sifatnya komunal, maka dapat disesuaikan dengan konteks berceritanya”, paparnya.

I Gde Nala Antara, salah satu tim kurator PKB ke-44 juga berharap, hal yang sama agar dalam ajang lomba mesatua Bali nantinya dapat diikuti lebih banyak peserta.

“Mesatua Bali harus diminati agar tradisi yang telah kita warisi ini tetap bisa bertahan”, cetusnya.

Terkait dengan kriteria peserta lomba dengan syarat usia minimal 40 tahun, menurut dia, hal tersebut memang kriteria baru yang sudah diputuskan panitia, tim kurator dan juri.

“Karena kami mempertimbangkan dari segi kematangan bahasa dan kematangan pengetahuan tentang etika. Itu yang diharapkan bisa dimasukkan saat mesatua (bercerita), termasuk soal tema”, katanya.

Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana itu pun menyampaikan bahwa mesatua yang telah terjadi secara turun-temurun dilakukan oleh para orang tua.

“Orang tualah yang bercerita pada anak-anaknya atau cucunya. Tidak mungkin anak kecil yang ‘nuturin’ orang tua. Itu yang direkontruksi lagi, direvitalisasi kembali sehingga bisa tetap hidup”, sebutnya.

Sedangkan terkait regenerasi mesatua, anak-anak ataupun kaum remaja bisa tetap ikut perlombaannya dalam ajang yang lain di luar PKB, seperti saat pelaksaan Pekan Olahraga Seni dan Pelajar (Porsenijar).