Kasus DBD Melonjak, Komisi IV DPRD Tabanan Raker Bersama Dinas Kesehatan 

Komisi IV DPRD Tabanan rapat kerja dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan yang berlangsung di Ruang Rapat DPRD Kabupaten Tabanan, Rabu (12/6/2024).
Komisi IV DPRD Tabanan rapat kerja dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan yang berlangsung di Ruang Rapat DPRD Kabupaten Tabanan, Rabu (12/6/2024).

PANTAUBALI.COM, TABANAN – Komisi IV DPRD Kabupaten Tabanan menggelar rapat kerja bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan yang berlangsung di Ruang Rapat DPRD Kabupaten Tabanan, Rabu (12/6/2024).

Rapat kerja ini dilakukan untuk membahas lonjakan kasus demam berdarah dengue (DBD). yang terjadi di Kabupaten Tabanan.

Yang mana kasus DBD di Tabanan sejak Januari hingga Mei 2024 terjadi lonjakan hingga angka 1.027 kasus. Sedangkan korban meninggal akibat DBD mencapai 3 orang pada periode yang sama.

Ketua Komisi IV DPRD Tabanan I Nyoman Wastana menyatakan, keprihatinannya atas meningkatnya kasus DB di wilayah Kabupaten Tabanan

“Hampir setiap saya berkunjung ke rumah sakit, pasti ada pasien DB. Oleh karena itu, kami di Komisi IV meminta dinas terkait untuk bekerja dan bertanggung jawab menekan kasus ini sedini mungkin,” ujar Wastana dalam

Baca Juga:  Restu Dewata Grop Berbagi Sembako dan Uang Tunai Kepada Lansia di Desa Jatiluwih 

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan dr. Ida Bagus Surya Wira Andi mengungkapkan, jumlah kasus DBD melonjak drastis menjadi 1.027 kasus.

Jika dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya tercatat 644 kasus maka terjadi lonjakan sebesar 609 kasus. Kecamatan Tabanan dan Kediri mencatat peningkatan paling signifikan.

Angka kematian juga mengkhawatirkan, dengan 4 kematian pada tahun 2023 sedangkan di awal tahun 2024 sudah ada 3 kasus kematian.

“Peningkatan kasus DB di Tabanan sejalan dengan tren di seluruh Bali, di mana Kabupaten Gianyar mencatat 2.004 kasus dan Denpasar menjadi wilayah tertinggi dengan 5 kematian. Tabanan sendiri berada di peringkat kelima dalam jumlah kasus DB di Bali,” jelasnya.

Baca Juga:  Koster Ngaku Siap Dipasangkan dengan Cok Ace atau Giri Prasta di Pilkada 2024

Menurut Wira Andi, faktor utama peningkatan kasus DBD ini adalah perubahan cuaca ekstrem, menurunnya kesadaran masyarakat dalam melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), tingkat pemantauan jentik yang kurang optimal, dan pertumbuhan populasi di daerah perumahan.

Meskipun masyarakat sering meminta fogging, metode ini hanya efektif membunuh nyamuk dewasa. Yang lebih baik adalah melakukan PSN

Baca Juga:  Viral di Medsos, Petugas Jagabaya Jadi Korban Pemukulan di Pantai Kuta

“Pemeliharaan lingkungan yang buruk, terutama dalam pengelolaan sampah plastik yang dapat menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti, juga berkontribusi,” tambahnya. (ana)